Untuk Rudy Habibie

Juli 03, 2016


Kembali... Film ini menunjukkan sisi totalitas Reza Rahadian dalam beracting. Tidak berhenti saya berdecak kagum dan geleng-geleng kepala melihat tiap-tiap scene yang dilakoni Reza. "Gilaaa, kaya ga ada 'cela' sedikitpun aktingnya." Kerut kening yang khas, gaya bicara yang pas dan semua terlihat sempurna dalam perawakannya memerankan Pak Habibie.
So far, He is the best actor I ever seen

Sisi lain yang membuat film ini sangat saya rekomendasikan adalah cinta luar biasa Pak Habibie kepada Tanah Air Indonesia, kegigihan, ambisi (dalam sudut pandang positif), dan berani mempertahankan jati diri dalam lingkup minoritas. Liat saja dalam adegan beliau dipermalukan karena ber passport hijau di sebuah cafe. Beliau tidak merasa ciut bahkan dengan bangga men skak mat dan menunjukkan siapa diri dia yang sebenarnya.

Banyak sekali cuplikan-cuplikan kisah dalam film ini yang sulit pudar dalam ingatan saya. Yang bahkan pernah saya alami juga dalam biduk perantauan di Ibu Kota. Betapi sakit dan susahnya di negri orang, cukuplah dirasa sendiri, jangan membebani orang tua, cukup mereka tahu semua terlihat baik-baik saja.

Baru di menit-menit awal, film ini sudah berhasil meneteskan air mata. Melihat ketegaran dan kekuatan Pak Rudy di waktu kecil. Saya sendiri tidak bisa membayangkan posisi saya sebagai beliau. Kepergian Ayah tercinta menghadap Sang Pencipta dalam sujud imam sholat berjamaah. Oh Tuhan...jiwa macam apa yang telah Kau titipkan pada Pak Rudy?

Terakhir, pembekalan ilmu agama yang kuat sedari dini sangat memberikan pengaruh luar biasa pada tumbuh kembang seorang anak. Mengajarkan hal-hal positif, menempatkan Tuhan di nomor satu di atas segala-galanya dan peran orang tua dalam mengarahkan masa depan anak, juga dikemas apik dalam film ini.

Beberapa lakon stand up comedy juga berhasil membuat gelak-tawa pecah seantaro bioskop. Dua jam lebih penanyangan tak sedikitpun membuat jenuh, banyak pesan moral yang dapat diambil dalam film perjalanan hidup Pak Habibie muda yang juga tertoreh dalam novel dengan judul yang sama.

Paling berkesan ... Tuhan di atas segala-galanya (yang paling menohok buat saya).
Kisah hidup Pak Habibie yang tak sedikitpun terlepas dari kedekatannya kepada Yang Kuasa. Aku kesulitan memberi review dalam persepsi ini. Satu yang pasti. Begitulah kecintaan Pak Habibie tidak hanya kepada Indonesia namun juga kepada generasi-generasi sesudahnya. Beliau menempatkan Tuhan dalam setiap langkahnya. Kepintaran yang dimilikinya juga membawa manfaat besar bagi orang banyak. Sejauh pencapaian yang sudah didapat, ingatlah Tuhan yang sudah mengatur segalanya.

Aku melirik kembali sekolah yang sekarang ini aku tempati. Gejolak film Rudy Habibie semakin memperkuat interpretasi ku kepada tumpuan tempat mencari ilmu ini. Pak Habibie sungguh luar biasa. Jika mengutip harapan beliau kepada sekolah ini dibangun, aku selalu dengan bangga mengucapkan, "Inilah dia sekolah Pak Habibie, yang dibangun untuk melahirkan generasi cendekia yang BER-OTAK JERMAN, BERHATI MEKAH."

Sebagai penutup, film ini pokoknya wajib tonton!!!
( 9.8 of 10 )
Mari terus apresiasi karya film anak bangsa, makin ke sini makin terlihat perkembangan film - film Indonesia yang makin mendunia. Mari terus berkarya, Mari terus cintai Indonesia.


Salam
Mari berkemas melihat Indonesia yang lebih luas

You Might Also Like

0 Comments