Wisata Bandung di Era New Normal Adaptasi Baru (Part 1)

Agustus 30, 2020

 Part 1: Kemah Santuy di Ranca Cangkuang 

*Disclaimer

Sebelum membaca artikel ini lebih lanjut tolong dipahami dulu statement berikut agar tidak mengeluarkan ujaran-ujaran yang tidak menyenangkan. Ada dari pembaca mungkin beranggapan situasi kita saat sekarang ini belum aman, sebisa mungkin tetaplah stay home, termasuk bepergian apalagi berwisata. Tapi, izinkan juga saya dengan persepsi saya. Kalau kamu saat sekarang ini masih baik-baik saja, belum sampai pada titik “yang tidak jelas” mau bagaimana, yang masih bisa monoton dengan aktivitasmu selama pandemi ini, bersyukurlah. Terlepas dari itu di luaran sana juga ada yang sudah ingin “lepas” terutama bagi mereka yang suka beraktivitas di luar ruangan.

Artikel ini saya tulis bukan untuk mengajak kamu untuk kembali memulai berwisata. Tapi, kalau memang kamu sudah ingin menyapa kembali alam bebas, mungkin bisa menjadikan beberapa informasi di bawah ini sebagai referensi.

Hamparan bukit kebun teh di area Ranca Cangkuang

Setelah berbulan-bulan lamanya #dirumahsaja akhirnya Juli lalu saya memberanikan diri untuk kembali melihat dunia luar. Ya, traveling. Namun, gaya perjalanan kali ini agak berbeda dari biasaya. Tentu saja itu disebabkan dengan pandemi yang belum juga usai. Walau Indonesia sudah masuk ke tahap new normal (adaptasi baru), tapi ternyata gaya wisata pun memengaruhi dari yang sebelumnya. Semua tentu saja untuk kebaikan semua. Lalu bagaimana saya menyiasati liburan di masa adaptasi baru ini? Berikut beberapa tips yang saya terapkan untuk memulai wisata di masa adaptasi baru:

1.   Lokasi liburan

Memilih tempat untuk didatangi ketika liburan di masa adaptasi baru ini sangat menjadi pertimbangan penting. Sebisa mungkin carilah spot yang tidak banyak dikunjungi orang, outdoor lebih baik dan ya kalau bisa yang anti mainstream. Serta usahakan juga lokasinya yang masih memungkinkan untuk physical distancing.

2.   Pemilihan waktu

Kalau memang tetap ingin datang ke tempat wisata yang ramai, pilihlah waktu yang kemungkinan tidak akan banyak dikunjungi orang. Misal, tidak ke sana ketika weekend atau datang di jam-jam yang akan sepi pengunjung lain.

3.   Gunakan kendaraan pribadi

Meski beberapa layanan transportasi publik sudah menerapkan standar protokol Covid-19, namun sebaiknya kalau masih memungkinkan gunakanlah kendaraan pribadi. Bisa disiasati dengan misal menyewa kendaraan roda empat.

4.   Teman jalan

Sebisa mungkin batasi dulu untuk jalan-jalan rombongan dalam jumlah yang besar. Cukup mungkin dengan mengajak keluarga inti saja, atau kerabat-kerabat dekat. Mau dengan teman-teman? Pilihannya ajaklah teman-teman terdekat dan pastikan juga mereka semua dalam kondisi keadaan sehat walafiat.

5.   Tetap terapkan standar protokol kesehatan

Ketika di dalam mobil, di dalam ruangan tertutup yang sirkulasi udara sempit, tetaplah kenakan masker. Kecuali kalau jendela mobil di buka dan melaju di hamparan kebun teh yang hijau dengan udara segar.

6.   Peralatan tempur

Tetap bawa perlengkapan dan perbelakan yang dianjur seperti; masker, handsanitizer, alat ibadah, tisu, peralatan makan sendiri minimal tumbler atau set sendok, perlengkapan mandi pribadi dll. Demi menghindari berbaur dengan yang lain.

7.   Transaksi non-tunai

Generasi cashless, sudah saatnya beraksi. Sebisa mungkin hindarilah terlebih dahulu bertransaksi dengan uang tunai. Mungkin untuk penginapan, sewa mobil dan rental lain-lain bisa menggunakan transaksi transfer atau debit. 

Secuil area kemah di Ranca Cangkuang

RANCA CANGKUANG

Sudah siap dengan 7 point di atas? Baiklah, mari kita Bismillah dan mulai jalan.

Bandung Selatan menjadi pilihan saya bersama teman-teman untuk kembali pelan-pelan menyatu dengan alam, menghabiskan dua hari satu malam di Bumi Perkemahan Ranca Cangkuang. Lokasi tepatnya berada di desa wisata Gambung, Mekarsari, Kec. Pasirjambu, Bandung Selatan. Pertimbangannya, karena sudah lama ingin menghirup udara segar dan melihat yang hijau-hijau dengan nuansa baru. Maka jatuhlah pilihan ke lokasi ini. Apa hal menarik tentang Ranca Cangkuang? Berikut beberapa poinnya:

1.   Belum banyak dikenal

Kalau Ranca Upas atau Situ Cileunca pasti sudah pada familiar, kan? Nah, maka dari itu saya dan teman-teman melipir ke sini karena masih sangat baru ketika mendengar nama Ranca Cangkuang dan menjadikannya destinasi buat nge-camp kali ini.

2.   Camp area yang sangat luas

Ada beberapa pilihan area kemah di lokasi ini. Jika ingin tidur ditemani dengan suara aliran air, pilihlah lokasi di pinggir sungai. Atau kalau mau menikmati malam dengan tenang pilihlah lokasi yang terletak di bagian atas mendekat ke area kebun teh. Selain itu, dengan fasilitas lokasi kemah yang begitu luas, sangat memungkinkan sekali kita mendirikan tenda dengan jarak aman. Tenda juga harus physical distancing, donk. Agar tetap privasi ngecamp di masa pandemi ini.

Karena areanya yang luas, Ranca Cangkuang juga tepat dijadikan sebagai pilihan lokasi gathering atau kumpul-kumpul keluarga, teman, bahkan komunitas. Tapi tentunya ini nanti ya, kalau pandemi sudah berakhir. 

3.   Hamparan kebun teh hijau rindang

Hamparan kebun teh dan bukit-bukit yang menghijau adalah pemandangan spektakuler yang bisa disaksikan ketika berada di Ranca Cangkuang. Tidak hanya itu menjelang ke lokasi pun juga tak kalah menawan panorama yang akan mengiringi selama perjalanan. Jangan lupa buka jendela mobil dan nikmatilah udara segar dari pucuk-pucuk daun teh yang menyapa.

Sore hari juga bisa lebih dekat menikmati aroma sejuk kebun teh dengan trekking santai (mendaki) sebuah bukit kecil di sebelah area kemah. Dari atas sini akan terlihat luasnya Ranca Cangkuang dari ketinggian. Menikmati sepoi-sepoi angin sore yang berembus menyibak wajah.

Untuk anak runners, Ranca Cangkuang ini juga bisa menjadi pilihan loh, untuk lari di pagi hari. Seperti yang dilakukan oleh teman saya, running dari Ranca Cangkuang ke pintu masuk melewati kiri-kanan hamparan kebun teh membentang. Hhhm…betapa segar dan sehatnya.

4.   Berkemah dengan fasilitas lengkap

Ingin mendirikan tenda tapi ribet bawa dari rumah? Atau tidak punya sama sekali perlengkapan buat kemah? Tenang, Ranca Cangkuang sudah menyediakan fasilitas lengkap buat kemping. Tenda, matras, sleeping bag, dan kawan-kawannya tinggal disewa saja di sini. Kita datang, tenda sudah berdiri menyambut. Lokasi nge-camp pun bisa kita request.

Selain itu toilet dan musala juga tersedia di area kemping. Jangan khawatir airnya ngocor terus. Segar dan adem apalagi dipakai buat mandi.

Soal makanan juga tidak usah risau. Ada beberapa warung warga yang jualan di sekitar area. Untuk segelas kopi hangat dan gorengan tentu saja tersedia di sini. Atau malam-malam pengen nasi goreng? Tenang, ada juga kok yang jualan di warung.

Semangkuk rujak pelega dahaga di siang yang terik

            5.   Mulai dari bermain di sungai, menara pantau, hingga api unggun

Seperti yang saya mention di atas Ranca Cangkuang dibelah oleh sebuah aliran sungai kecil, jadi sangat memungkinkan ketika berwisata bersama keluarga bisa bermain-main percikan air di sungai yang dangkal. Sangat cocok mengajak anak-anak menikmati alam bebas bermain di sini.

Lelah bermain air bisa dilanjut menuju sebuah menara pantau yang terletak tak jauh dari kawasan. Walau tak terlalu tinggi juga lumayan spot ini bisa memandang kejauhan lokasi Ranca Cangkuang.

Ketika malam hari tiba, bercengkramalah dengan petikan gitar di temani bintang-bintang dan jagung bakar. Bernyanyi bersama di lingkaran api unggun. Yap, selain bisa sewa perlengkapan kemah, pengunjung juga bisa request api unggun. Ketika malam mendatang setumpuk kayu bakar sudah tersedia dan tinggal dibakar. Lumayan pengusir dingin Ranca Cangkuang yang menusuk ke badan. 

Kala pagi menjelang di Ranca Cangkuang

Bagaimana, tertarik untuk nge-camp cantik dan santuy di Ranca Cangkuang? Sebelumnya perlu mempersiapkan beberapa hal dulu, nih:

1.   Pastikan kendaraan aman

Cek kondisi kendaraan adalah hal utama sebelum memutuskan ke sini. Karena akses menuju kawasan wisata ini masih berbentuk jalanan berbatu. Jadi pastikan kesiapan kendaraan ketika dibawa ke mari. Selain kontur jalanannya yang masih berbatu, luas jalanannya juga tidak seberapa. Jadi hati-hati kalau sekiranya papasan dengan kendaraan lain dari arah berlawanan. Lumayan nahan nafas kalau sampai kejadian.

2.   Persiapkan perbekalan sebaik mungkin

Kalau tidak mau menyewa perlengkapan kemah, pastikan sudah membawa perlengkapan camping dengan sangat lengkap, termasuk urusan perut. Walau ada beberapa warung warga yang jualan tapi variasi jualanannya masih standar. Untuk makan berat seperti nasi padang memang tidak ada. Jadi pastikan juga urusan perut terpenuhi nantinya ketika kemah di sini. Karena bakalan repot lagi kalau harus ke luar untuk mencari makan atau untuk urusan mengenyangkan perut. Baiknya sih memang bawa bahan mentah dari rumah. Jadi bisa sembari main masak-masakan. Kemah yang sempurna, kan? 

3.   Datanglah ketika sore menjelang

Waktu kedatangan ke sini baiknya juga diatur. Dan saya merekomendasikan datang ke sini sebaiknya menjelang sore hari ketika waktu sudah teduh. Berdasarkan pengalaman kemarin, kami datang terlalu awal (pagi) alhasil bingung mau melakukan apa di siang bolong nan terik. Mau masuk tenda, kepanasan. Mau keliling kebun teh juga terik membahana. Akhirnya memilih gelar matras di bawah pohon-pohon dan tidur siang.

4.   Malam hari yang dingin

Jika siang terik luar biasa, kalau malam menjelang suhu berubah menjadi dingin. Pastikan tidak lupa membawa jacket, selimut atau sleeping bag untuk menghangatkan diri di malam hari.

5.   Piknik santuy bersama keluarga

Dari semua yang saya lihat Ranca Cangkuang memang pas untuk piknik santuy bersama keluarga dan anak-anak. Ditambah lagi bisa juga memilih berkemah dengan gaya overland. Tinggal mendirikan tenda di sebelah mobil van. Menarik, kan?


Bersambung di sini

You Might Also Like

0 Comments