Bagian Workshop Writerpreneur Accelerate BEKRAF 2019

Agustus 20, 2019


“Telat 5 menit pintu tutup!” Teng … masih terngiang-ngiang di telinga dan terbayang gedebak-gedebuknya.

          Acara ini diselenggarakan tanggal 25-28 Juni 2019 di Royal Padjajaran Hotel selama 4 hari 3 malam full tanpa leyeh-leyeh sedikit pun. Ah, jangankan untuk hanya sekadar santai-santai menikmati fasiltas hotel, waktu istirahat acara saja sudah ngap-ngapan, dari lantai 9 turun ke kamar lantai 5,lalu turun lagi ke resto untuk makan. Semua harus tepat waktu.
          Aku baru mengetahui info workshop ini pada tanggal 15 Juni. Yang artinya H-10 sebelujm kegiatan dimulai. Mepet? Sudah pasti. Awalnya agak pesimis pasti sudah banyak yang daftar apalagi slot terbatas. Tapi entah kenapa tetap saja ingin coba, siapa tahu masih rezeki, pikirku.
          Selain telat dapat info ternyata persyaratan untuk mengikuti kegiatan ini pun masih kurang . Satu dari sekian persyaratannya adalah minimal sudah menerbitan 3 buku. Otomatis aku masih kurang 1 buku. Baru ada 2 yang terbit; Aku, Mereka, dan Ranah Jawa (2015) dan Bertandang ke Ranah Daeng (2018). Pesimis lagi. Tapi tetap saja nekat WA contact person yang tertera, lagi-lagi, siapa tahu masih rezeki.

“Selamat siang mba, yang ini masih bisa daftar?”
“Silakan isi data berikut……”
“Untuk buku, sy masih kurang 1 lagi. Apakah masih boleh isi data?”
Boleh Kak, kalau ada 1 naskah yang belum terbit tapi sudah selesai, gpp disertakan, kurungi aja coming soon.”

Nah kan, Alhamdulillah masih rezeki. Ada 1 naskahku yang sudah kelar, yaitu tentang perjalananku ke Anambas tahun lalu. Sekarang posisinya sedang menunggu pinangan penerbit. Yey, jadi bisa ikut daftar.
Membawa si baby Bertandang ke Ranah Daeng
Alhamdulillah kabar baik berikutnya menghampiri, tepat hari Kamis tanggal 20 Juni jam 11 pagi ada WA masuk dengan kata pembuka SELAMAT. Alhamdulillah aku terpilih menjadi satu dari 50 peserta terpilih. Keesokannya, hari Jum’at aku langsung gencar mengurus izin dari kantor. Karena hanya tersisa dua hari, Jum’at dan Senin karena Selasa acara sudah akan dimulai.
Yeeey,, welcome ilmu baru.

Kenapa aku sangat tertarik untuk mengikuti workshop ini?
Jujur, alasan utamanya adalah penyelenggaranya yaitu BEKRAF. Salut dengan kepedulian instansi ini kepada para penulis dan dunia literasi tentunya. Apalagi workshop ini bukan yang pertama kalinya. Sudah diselenggarakan terlebih dahulu di sepuluh kota lainnya di Indonesia sebelum Bogor menjadi kota yang kesebelas.
Lalu, acara selama empat hari tiga malam ini terbatas, hanya untuk lima puluh orang penulis terpilih saja. Bayangkan, bakalan ketemu dengan penulis-penulis hebat lainnya, loh.
Acaranya diselenggarakan di Kota Bogor. Jadi akses masih dekat dan gampang. Walau memang tidak ada uang transpor (yang dijanjikan diawal) tapi selama acara berlangsung mulai dari hotel, makan dan fasilitas lainnya sudah free. Bisa dibilang acara gratis, coy.
Kemudian, narasumbernya donk. Orang-orang kece dan keren semua. Yang ilmunya sudah tidak diragukan lagi dalam dunia literasi. Sudah dapat dipastikan bakalan banyak ilmu yang dibawa pulang kelar acara. Benar-benar tidak hanya gelas kosong yang perlu dibawa, tapi baskon dan ember dibawa sekaligus biar bisa nampung banyak ilmu.
Para mentor
Mentor
Kirana Kejora
Mentor utama dan pertama sekali adalah Mbak Kirana Kejora. Dari sebelum acara, semuanya dikoordinir oleh beliau. Bisa dibilang kesuksesan WWA BEKFAF adalah berkat wanita yang biasa dipanggil Mbak Key ini. Semuanya beliau yang in charge. Masih sangat melekat pertama kali beliau say hi di grup WhatsApp, sudah langsung gedar-gedor kalimat panjangnya. Yang menyimpulkan kalau kegiatan ini bukan main-main. Jangan harap bakalan bisa santai atau tenang-tenang. Intinya bakalan padat merayap tanpa ampun. Sudah di warning diawal sebelum hari H, yang mental cemen silakan mundur dan berikan seat pada peserta yang waiting list. Karena WWWA BEKRAF ke 11 di Bogor ini adalah kawah candradimuka yang artinya ya harus konsisten dan sunggunh-sungguh.
Kalimat beliau lainnya yang masih sangat kuat diingatanku adalah telat lima menit pintu ditutup! Haha kalimat yang membuat kocar-kacir peserta untuk dapat ontime dalam setiap sesi. Walau jeda istirahat hanya satu jam saja, tapi harus cukup untuk semua seperti makan siang dan melaksanakan salat lima waktu. Benar-benar ngos-ngosan dibuatnya. Ngos-ngosan tapi seru. Terlepas dari itu semua aku cukup berbangga. Terpilih menjadi peserta dari 500-an orang yang daftar. How lucky I was.
Selama empat hari kegiatan berlangsung Mbak Key tak pernah absen sekalipun. Walau pemateri narsum lain doi tetap setia dampingi kita para peserta.
Materi dari Mba Key juga tak kalah banyaknya. Mulai dari seluk-beluk beliau memulai menulis, perjuangannya jadi seorang penulis hebat seperti sekarang ini, jatuh-bangun yang dia lalui dibuka terang-terangan selama acara. Bagi aku seorang penulis pemula tak berhenti-henti merinding dibuatnya. Karena wanita yang berdiri di depanku ini adalah bukti nyata bahwa orang yang bersungguh-sungguh itu, jaminannya adalah keberhasilan dan kesuksesan. Lebih tepatnya usaha itu tidak akan pernah menghianati hasil.
Walau berdiri di depan sebagai pembicara, beliau tak henti-hentinya melecut semangat kami.
Project beliau kedepan yang aku tahu adalah penayangan YORICK, diangkat langsung dari novel best seller-nya yang berdasarkan kisah nyata. Pun juga sudah tuntas aku baca dan berhasil membuat mata sembab.
Sukses selalu Mbak Key. Semoga kelak aku bisa berada diatasmu seperti yang sering engkau tularkan ketika WWA. Kami yang 50 orang penulis terpilih kelak harus “lebih” diatas kalian para mentor yang sedang berada didepan.

Agustinus Wibowo
Well, sejujurnya ini juga menjadi alasan kuat aku untuk ikut workshop ini. Dapat dipastikan, siapa sih traveler yang tidak mengenal Koh Agus? Titik Nol adalah karya beliau yang sangat terkenal. Buku pertama dengan tebal lebih dari 500 halaman yang berhasil aku santap seketika bahkan berulang kali. Perjalanan yang penuh kontemplasi. Sejak saat itulah aku mulai mengangumi beliau dengan perjalan-perjalanan luar biasanya.
     Pernah juga beberapa kali aku mau ikut kelas kepenulisan yang dimentori beliau, ternyata setelah dilihat angka-angkanya cukup fantastis. Langsung mundur teratur.
Pas tahu doi jadi satu pembicara di WWA BEKRAF tentu aku sangat antusias dan berharap lolos agar dapat menyerap ilmu langsung tentang kepenulisan travel story dari pakarnya.
Mendengarkan materi dari Koh Agus layaknya seperti sedang didongengkan. Doi hanya bercerita mengalir tentang perjalanan yang sudah dilakukannya tapi semua peserta seperti terhipnotis mendengarkan. Pun aku. Kalau bisa mata jangan sampai berkedip, telinga terus terbuka lebar karena saking yang beliau sampaikan itu berguna semua.
     Dan ternyata aku juga baru tahu, buku sekelas Titik Nol itu memang tidak langsung jadi begitu saja. Ada perjuangan panjang yang dilakukan oleh Koh Agus, termasuk sampai sebanyak 26 membaca naskah ceritanya tersebut. Bahkan untuk project buku yang sekarang sedang digarapnya, dia sudah membaca lebih dari 200 buku untuk riset dan referensi. Ternganga sih dengarnya. 200 buku euy. Keren maksimal.
     Dari segi materi lagi, aku banyak mendapat ilmu tentang dunia kepenulisan terutama travel story yang memang menjadi concern-ku. Satu diantaranya, mengajarkan perjalanan yang penuh kontemplasi.
     Thanks Koh Agus ilmunya, semoga dilain kesempatan bisa menyerap ilmu lebih lagi dari dirimu. 

      Pidi Baiq, Khrisna Pabichara, Jia Effendie
     Selanjutnya ada juga ayah Pidi Baiq, ayahnya Dilan. Ini adalah kali kedua aku dapat bertatap langsung lagi dengan beliau. Setelah dulu pertama kalinya di tahun 2015 aku semeja dengan beliau ketika mengikuti workshop kepenulisan yang lain.
     Daeng Khrisna Pabicara juga keren ilmunya. Pakarnya KBBI, begitulah julukan yang tepat untuk beliau. Aku bisa bilang beliau adalah KBBI berjalan saking cintanya dengan penulisan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
     Terakhir ada Mbak Jia Effendie dari Storial.co. Laman online yang sangat support penulis. Membantu banget para para penulis terutama pemula. Berkontribusi tak hanya sekadar kontribusi, tapi juga ada “hasilnya”.
Okay, jadi itu para pemateri di acara WWA BEKRAF yang nonstop memberi ilmu dari pagi hingga tengah malam.
Apa output nyata dari kegiatan ini?
          Peserta WWA yang berjumlah 50 orang dibagi menjadi 7 kelompok. Tiap kelompok ini benar-benar diasah kemampuannya untuk mempelajari seluk-beluk kepenulisan terutama tentang buku. Belajar dari hilir hingga hulu. Dari proses sampai terbit hingga marketing dan promosinya. Di hari terakhir kami semua wajib untuk mempresentasikan rencana buku yang akan kami garap tiap kelompok. Bahkan lengkap dengan book trailer-nya. Di waktu yang sempit dengan hujatan materi kami harus bisa dan siap presentasi dengan konsep yang wajib matang. Benar-benar luar biasa josnya.
Syukurlah memang penulis yang terpilih adalah orang militan, seperti kata Mbak Key. Jadi tetap berhasil mengerjakannya walau agak ngap-ngapan dibuatnya. Termasuk limit waktu pengerjaan project ini pun bisa dibilang mepet. 28 Juni berakhir acara, 4-6 Oktober karya sudah harus mejeng pada BEKRAF Festival di Solo nantinya.
Lucky us, selain itu Insya Allah nanti kami juga akan launching secara resmi tanggal 22 September 2019 di Perpustakaan Nasional Indonesia (Perpusnas), Jakarta. Ah, can’t wait for that event.
Sedang presentasi konsep kelompok kami
Dari segi peserta
50 orang terpilih ini selain ada yang memang sudah full time writer tapi tak jarang juga ada yang punya profesi lain. Sebut saja ada yang memang kesehariannya bergelut di industry per-film-an, guru, konsultan konstruksi, kerja di instansi pemerintahan atau bahkan banyak lagi profesi bergengsi lainnya.
Benar-benar membuka mata, kalau menulis itu bukan hanya sekadar bakat. Siapa saja bisa menjadi penulis asal ada kemauan dan terus mengasah kemampuan.
Sedangkan bagi yang full-time writer aku sampai terkejut juga mendengarnya. Ada yang sudah menulis 25 buku atau malah lebih terkejutnya  lagi ada yang sudah menulis lebih dari 65 buku, loh. Ckcck.
Selain itu juga ada yang sudah menjadi script writer, penulis ide cerita FTV dan banyak lainnya lagi yang bikin aku ternganga melihat sepak terjang mereka.
Jadi dengan demikian, secara tidak langsung aku juga termasuk orang hebat seperti mereka loh, ya. Alhamdulillah.
                                                        ***                                                
Namun demikian, satu saja yang agak minus aku rasa dari kegiatan ini. Dengan padatnya waktu kegiatan, jadi intensitas untuk saling mengenal peserta lebih dekat agak kurang. Rasanya tak cukup banyak waktu untuk melebarkan koneksi selain hanya pada teman sekamar dan kelompok tim yang memang duduk dalam satu meja bundar. Seperti yang aku bilang diawal, jangankan hanya untuk sekadar ngobrol basa-basi, waktu istirahat saja gedebak-gedebuk. Alhasil, orang-orang hebat tersebut hanya dapat dikenal sekilas tanpa dapat mengobrol lebih jauh dengan mereka.
Meski begitu, beruntung aku lumayan dapat tambahan teman-teman baru yang hingga saat ini intens komunikasi. Pertama dengan Vero, teman sekamar yang  novelnya juga banyak nongkrong di toko buku. Lalu tentunya para kelompokku, Antargata. Mbak Nunik, Bu Riza, Dede, Mbak Karin, Pak Joego dan Mas Tegar adalah keluarga baruku sekarang ini. Semoga buku kami berjudul sama, ANTARGATA, Insya Allah siap kedepannya membawa kami mengudara lebih jauh dan tinggi lagi.
Dan tak lupa pula beberapa teman lainnya yang sudah komunikasi singkat. Mbak Delisa yang menjadi narahubung. Teman-teman di dunia instagram tapi belum sempat bercerita lebih jauh dan tentu teman-teman lainnya yang say hai saat acara.
Ternyata kurangnya waktu tidak hanya dirasakan oleh para peserta. Mbak Key juga merasakan hal demikian. Ada materi yang masih belum tersampaikan kepada kami sedangkan waktu acara sudah akan berakhir. Hhhmm 4 hari 3 malam yang singkat ternyata.
Terlepas dari itu semua. Alhamdulillah acara berjalan dengan lancar. Dibuka dengan semangat membara oleh Bu Poppy Savitri selaku perwakilan BEKRAF membuat kami semua merasa terharu dengan kepedulian BEKRAF terhadap dunia literasi terutama kepada kami para penulis.
Terima kasih BEKRAF.
Semoga teman-teman penulis di daerah lainnya di Indonesia kelak juga bisa merasakan euforia yang kami dapatkan.
Tunggu karya-karya kami ya. Kami akan membuktikan WWA 11 BEKRAF 2019 dengan sebutan ELANG GUNUNG akan siap menggemparkan dan mengudara tinggi.
Terima kasih semua.

Wilda Hikmalia
Penulis Terpilih Workshop Writerpreneur Accelerate BEKRAF 2019

You Might Also Like

0 Comments