Jelajahilah Banyuwangi, Kau Pasti Ingin Kembali !

Februari 20, 2015

Patung Gandrung (tarian khas Banyuwangi) – Watu Dodol

Dia adalah kabupaten terluas di Jawa Timur, dikelilingi oleh pengunungan yang menjulang tinggi.
Dia juga merupakan surga bagi para pecinta surfing dunia.
Dia pun kaya akan lebih dari dua taman nasional dalam lingkarnya.
Serta tak ketinggalan, kearifan lokal masyarakatnya kental akan kekayaan budaya yang dia miliki.
Ya .. dialah yang tersebut bernama “The Sunrise of Java.”
---
Meskipun berdekatan langsung dengan salah satu pulau tersohor di Indonesia, yang menjadi incaran para pelancong dunia, tidak membuat Banyuwangi mati gaya menunjukkan pesonanya pada mata para pecinta keindahan. Berbagai panorama itupun ; gunung, laut, hutan, budaya, terkemas dan terbentang mengelilingi Banyuwangi yang tentunya tidak akan dapat hitungan hari untuk dapat menjamah keseluruhan luapan ciptaan Tuhan yang bersemayam di sana.
Saya akhirnya berkesempatan langsung bertegur sapa dengan alamnya di 27-31 Desember 2014 kemarin setelah satu tahun menyusun rencana perjalanan. Cuplikan inti tempat-tempat kece itu akan saya sajikan secara apik untuk para traveller umumnya dan kepada kompasianer khususnya. Semoga segera jua hendaknya menjejakkan kaki di Banyuwangi demi terus meningkatkan dan membantu mengembangkan pariwisata Indonesia, baik dikancah negeri sendiri maupun memperkenalkannya ke mata dunia, betapa indahnya negeri pertiwi ini.

Lalu, apa saja sih yang ada di Banyuwangi?
Let’s check it out ………….. 

Jalan masuk menuju TNAP
Rimbun pepohonan menghiasi jalanan TNAP
I . Taman Nasional Alas Purwo
 
Ini dia Taman Nasional pertama yang akan saya kenalkan kepada anda semua. Dengan tarif      5.000 rupiah para pelancong akan banyak disuguhi berbagai macam pilihan wisata di lokasi yang kental akan aura mistis ini. Apa saja itu? Mari kita intip

Situs Kawitan

Situs yang merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit ini, terletak di tengah-tengah hutan Alas Purwo dan menjadi tempat persinggahan pertama setelah memasuki kawasan hutan lebat ini. Pura ini terbuka untuk umum, bagi yang tidak sembahyang dapat menyaksikan kesakralan ibadah disini dengan catatan tetap memperhatikan kesopanan dan menghormati para pesembahyang yang sedang melakukan ibadah.
 
Situs Kawitan dikelilingi hutan rimbun TNAP
Suasana di dalam lokasi utama

Padang Rumput Sadengan 

Persinggahan selanjutnya adalah sebuah savana seluas 80 hektar yang hijau terbentang sebagai tempat tinggal berbagai satwa seperti Banteng, Rusa, Ajag, Kijang, Babi Hutan dan banyak lainnya. Disini juga terdapat sebuah pos 3 lantai pemantau satwa, dan tentunya juga dibuka untuk para pengunjung yang ingin mengarahkan pandangan ke padang lepas atau hanya sekadar mengabadikan gambar di sadengan ini. 

Satwa Sadengan dalam kelompoknya
Savana hijau terbentang luas

Pantai Plengkung – G-Land 

Nah, ini dia si icon yang membuat nama Taman Nasional Alas Purwo melambung. Sebuah surga bagi para surfer dunia untuk mencicipi ombak tinggi rancak yang ditawarkan oleh Plengkung. Mencapai lokasi ini tidak semudah yang dibayangkan, tetapi para pengunjung harus menggunakan kendaraan/jeep tersendiri yang sudah disediakan oleh pengelola seharga Rp 250.000,- /mobil-return. Tarif ini sesuai dengan medan yang akan dilalui menuju G-Land yang menantang. 

Surga yang berlokasi di tenggara Pulau Jawa ini, konon dulunya ditemukan oleh para surfer yang berasal dari Amerika Serikat dalam sebuah ekspedisi. Pantai berombak besar dan berkecepatan tinggi ini, akan banyak dibanjiri surfers pada bulan April-September setiap tahunnya karena dimasa seminggu setelah bulan purnama dan atau bulan baru itulah gelombang tinggi akan terjadi bahkan ombak bisa mencapai 6-8 meter. Woow… sesuatu yang sungguh fantastic bila bisa menyaksikan atraksi para surfer dari berbagai belahan dunia melakukan olahraga surfing di pantai yang pernah dilanda tsunami pada tahun 1994 ini. 

Segera memasuki Plengkung Beach

Ombak kecil G-Land dikejauhan
Sisi lain ketenangan Plengkung

Sunglon Beach

Awalnya pantai ini tidak termasuk kedalam destinasi saya bertandang ke Banyuwangi. Tapi berhubung pantai tetangganya, Trianggulasi sedang tidak dibuka untuk umum alias sedang ada acara keagamaan. Jadilah pantai ini menjadi obat penawar luka dihati.  Sebenarnya banyak jajaran pantai disepanjang Kawasan Taman Nasional Alas Purwo ini, terutama untuk dapat menyaksikan matahari terbenam di sore hari. Eits , tentunya Sunglon tidak kalah menawan dalam adu keelokan matahari petang.
Desiran ombak ditemani kemilau semburan jingga
Sunset Sunglon yang tidak kalah cantik

II. Taman Nasional Meru Betiri

Apa ? Taman nasional lagi?
Ya iya donk, kan diawal sudah dikata “kalo ini punya tempat lebih dari dua” Taman Nasional . 

Trus, bedanya Meru Betiri sama Alas Purwo?
Oh, jelas beda. Kalau di Alas Purwo banyak pohon-pohon tingginya sedangkan kalau di Meru Betiri, juga ada sih, tapi nuansanya beda bro.

Beda gemana?
Makanya jangan banyak tanya dulu. Ini nih jagoan-jagoannya Meru Betiri 

Jalan asri menjelang pintu masuk Taman Nasional Meru Betiri
Green Bay – Teluk Hijau

Ah, pemborosan kata tuh. Green Bay ya pastinya Teluk Hijau lah.
Haa haa … Tenang-tenang. Disebagian traveler ada yang suka menyebut tempat ini Telok Ijo tapi ada juga yang menyebutnya dalam bahasa inggris tersebut. Ya mungkin, biar kece ajah di english-english kan sikit hee hee.

Menuju Teluk Hijau, tarif masuk terlebih dahulu diserahkan menjelang gerbang taman nasional seharga 7.500. Selanjutnya trekking akan siap menanti setelah dari parkiran terakhir kendaraan.

Air laut yang identik berwarna hijau dengan pasir putih yang mempesona, membuat objek yang satu ini selalu ramai didatangi oleh para penikmat alam terutama dihari libur panjang atau weekend. Mencapai lokasi inipun ada 2 cara; menggunakan perahu dari Pantai Rajegwesi atau melalui jalur trekking turunan 45-60 menit dengan kemiringan ± 60˚ dan kecepatan yang sesuai dengan kondisi medan dan tenaga. Dua opsi ini memiliki tantangan tersendiri. 

Green Bay yang identik dengan hijau airnya
Bersama teman seperjalanan
Teluk Hijau nan menawan

Setelah melewati tantangan track, pengunjung tidak langsung sampai di Teluk Hijau. Tetapi terlebih dahulu akan melewatkan sebuah objek lagi yang bernama Pantai Batu. Lokasi ini cukup unik dan sangat sesuai dengan namanya. Pantai yang didominasi 100% bebatuan.

Pantai Batu yang didominasi 100% bebatuan
Menjelang Green Bay
Teluk Hijau tidak hanya menawarkan keindahan pantainya yang apik, tapi disisi kanan pantai ini ada sebuah air terjun tawar setinggi 8 meter yang menjadi perpaduan lain bagi para beach lovers.
Air terjun disisi kanan
Gemana, kece badai kan ?
Jujur ya, Green Bay dan Plengkung inilah yang awalnya membuat saya tertarik untuk menjejakkan kaki di negri festival ini.

Lanjut ke destinasi berikutnya?
Oke ….. Meluncur

Pantai Mustika 

Hari kedua eksplorasi tujuan target sunset sore ini adalah Pantai Pulau Merah. Tapi sebelum beranjak senja ke lokasi tersebut, mampirlah saya terlebih dahulu ke Dusun Pancer Desa Sumberagung Kecamatan Pesanggaran. Pantai ini cukup eksotis dan nyaman dikunjungi sore hari. Liukan pohon kelapa, ombak kecil yang sesekali menyapu bibir pantai dan ketenangan yang tak terhingga dapat memanjakan diri bermain air dengan riang di pantai Mustika ini.

Pantai mustika Dusun Pancer Desa Sumberagung
 

Ombak Pantai Mustika yang cocok bermain dengannya
Pantai Pulau Merah

Nah, ini pulau pernah menjadi saksi sejarah penyelenggaraan lomba balap sepeda yang diadakan oleh Pemkab Banyuwangi demi memperkenalkan wisata ini ke dunia internasional melalui sebuah acara yang bertajuk “Banyuwangi Tour de Ijen” yang diselenggarakan pada tahun 2012 lalu. Pantai yang mana terdapat sebuah bukit bertanah merah diseberangnya dengan ketinggian 200m dapat dijangkau dengan berjalan kaki ketika air laut sedang surut. Pun penamaan lokasi wisata yang satu ini, berdasarkan icon yang ditawarkan di pantai ini. Tidak hanya itu, Pulo Merah juga memiliki ombak yang cukup bagus dan dicari-cari oleh para peselancar dengan ketinggian 3-5 meter. Dengan ombak menawan yang ditawarkan, Pulo Merah tidak hanya menarik bagi para surver profesional, tetapi peselancar amatirpun dapat mengasah kemampuan mereka di ombak sedang ini. Tak ayal, sore ini saya dapat menyaksikan atraksi-atraksi kecil beberapa bocah yang sedang bermain ombak dengan papan selancar mereka. Lagi-lagi melihat potensi ini, pemerintah setempat tidak tinggal diam. Seolah melihat “gundukan” besar wisata di depan mata untuk pulau ini, pada tahun 2013 kembali diadakan event bertajuk internasional di Pantai Merah ini dengan peserta dari 15 negara yang bertema “Banyuwangi International Surf Competition 2013”. 

Bukit Pantai Pulau Merah
Atraksi bocah bermain ombak dengan papan selancarnya

Pegemana ? Belom puas toh?
Ini baru hari ke dua eksplorasi loh, tapi surganya Banyuwangi sudah banyak mencuat membuat mata terkagum-kagum.
Berikutnya ………………… masih tentang sebuah taman  ……………..

You Might Also Like

0 Comments